Subscribe:

Labels

Senin, 14 Januari 2013

pesantren di grobogan

Pesantren yang mengakomodir keilmuan klasik dan modern.
Jauh dari perkotaan, itulah kesan yang akan tertangkap dari pesantren satu ini. bagaimana tidak, lokasinya yang terpencil dari pusat keramaian dan lalu lintas modernisasi, sekitar 45 km dari kota Purwodadi, ibukota Kab. Grobogan, dengan waktu tempuhnya mencapai 1 jam lebih. Jarak dan waktu tempuh yang tak jauh berbeda jika perjalanan dimulai dari pusat Kota Semarang, belum lagi jalan kecil menuju pesantren ini yang berbelok-belok menambah suasana yang mengasyikkan. Namun,  kondisi ini cukup membantu mengamankan Desa Brabo dari gempuran modernitas yang salah arah.
Sirojuth Tholibin, begitulah nama pondok pesantren itu. berlokasi di Desa Brabo Kecamatan Tanggungharjo Kabupaten Grobogan Jawa Tengah. suasana hangat dalam sanubari akan terasa jika kita telah menginjakkan kaki di tempat itu, belum lagi sejumlah bangunan yang berdiri megah berlantai dua menambah pemandangan yang menyejukkan mata.

Sejarah berdirinya
Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin berdiri pada 1941 M oleh Al Maghfurlah Kyai Syamsuri Dahlan yang berasal dari Desa Tlogogedong Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak. Sedangkan, istri Beliau Nyai Muslihah Syamsuri berasal dari desa Tanggung Kec. Tanggungharjo Kab. Grobogan, putri KH. Syarqowi, sang guru dan mertua Kyai Syamsuri.
Semula, pondok ini hanya mengajarkan kitab-kitab klasik dengan metode sorogan dan bandongan, namun seiring dengan perkembangan jumlah santri yang terus meningkat dari berbagai daerah, maka di bawah payung Yayasan “Tajul Ulum” pada tahun 1953 berdirilah Madrasah Diniyyah Awaliyah, tahun 1969 berdiri Madrasah Diniyyah Wustho, tahun 1970 berdiri Madrasah Tsanawiyyah, dan tahun 1985 berdiri Madrasah Aliyah.
Pada tanggal 4 Oktober 1988, Simbah Kyai Syamsuri Dahlan wafat, estafet kepemimpinan dilanjutkan putra beliau yang ke-4 dan ke-5 dari lima bersaudara, KH. Drs. Ahmad Baidlowie Syamsuri, Lc. H (alumnus Universitas Islam Madinah fakultas Hadis) bersama adik kandungnya KH. Muhammad Anshor Syamsuri (alumnus pesantren Futuhiyah asuhan KH. Muslih bin Abdurrohman Mranggen, Demak dan Pesantren Al Muayyad asuhan KH. Umar bin Abdul Mannan, Solo).
Pada 1989, pesantren yang sebelumnya hanya khusus putra ini, membuka asrama santri putri dan juga menerima santri tahashus, yang menghafal Al-Qur’an 30 juz dengan pengasuh Ibu Ny. Hj. Maimunah Shofawie (istri KH. Ahmad Baidlowie Syamsuri) alumnus pesantren asuhan KH. Mufid Mas’ud, AH (Jogjakarta), KH. Arwani Amin (Kudus), KH. Bisyri Syansuri (Jombang), dll.
Konon, sebelum KH. A. Baidhowi Syamsuri mendirikan pondok putri, KH. Ahmad Baidhowi bersamaan dengan Ibu Nyai Hj. Maimunah Shofawie bermimpi bertemu Gus Mik (KH. Hamim Jazuli,  Ploso) yang memerintahkan untuk membeli tanah di sebelah timur rumah beliau. Sekarang, di tanah tersebut sudah berdiri asrama pondok putri.
Untuk pengkajian kitab salaf (khusus mengkaji kitab kuning/klasik), Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin membuka program Madrasah Muhadloroh Sirojuth Tholibin pada tahun 1998 yang membuka kelas pagi dan pada tahun 2009 dibuka kelas malam yang diperuntukkan untuk santri kurikulum (santri yang bersekolah Madrasah Aliayah) dengan tenaga pengajar alumni PP Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, PP Alfalah Ploso, PP al Anwar Sarang, PP As Shiddiq Narukan, dan alumni Pondok Sirojuth Tholibin sendiri. Dengan demikian, pondok pesantren ini termasuk kategori pondok pesantren salaf-kholaf, sebuah pesantren yang mengakomodir keilmuan klasik dan modern.
Kini, Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin di asuh oleh putra ke-3 Kyai Syamsuri yaitu KH. Drs A. Baidlowie Syamsuri Lc. H lulusan dari universitas islam Madinah fakultas hadits asuhan Sayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliki dan Syech Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani Al Makky, Ponpes Futuhiyyah asuhan KH. Muslih bin Abdurrohman  (Mranggen, Demak), Ponpes. Al Muayyad asuhan KH. Umar bin Abdul Mannan (Solo) dll beserta keluarga besar beliau.

Program Pendidikan
Meskipun terletak di daerah terpencil, ternyata progam pendidikan yang tersaji dalam pesantren ini cukup variatif , meliputi : Pertama, Tahaffud Al Qur’an, Program ini dibagi menjadi tiga tahap : Hafalan juz amma (semua santri), Bin Nadzor (membaca) Al Qur’an 30 juz (semua santri), Bil Ghoib (bagi santri yang mengambil jurusan khusus penghafal Al Qur’an). Kedua, Madrasah Salafiyyah(non formal), Program ini disajikan bagi santri yang ingin berkonsentrasi khusus pada kajian kitab klasik yang lazim di kalangan pesantren ahlus sunah wal jama’ah, dengan Madrasah Muhadloroh Sirojuth Tholibin sebagai lembaga yang telah mempersembahkan khazanah keilmuan islam klasik secara aktual selama enam tahun ajaran dengan materi ilmu tafsir, tafsir, ilmu hadis, hadis, nahwu, shorf, ushul fiqh, fiqh, tashowuf, tajwid, dll. Ketiga, Madrasah Formal. Pendidikan formal yang terselenggara di lingkungan Ponpes. Sirojuth Tholibin adalah Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah (sederajat dengan SMP dan SMA) di bawah naungan Yayasan Tajul Ulum dengan program jurusan Keagamaan, IPA, IPS, dan Bahasa. Bagi santri yang mengikuti pendidikan formal diharuskan mengikuti pembelajaran Madrasah Diniyah Awaliyah / Wustho pada sore hari atau di Madrasah Takhassus pada malam hari. Keempat, Non Madrasah, meliputi : 1. Individual (sorogan) dengan materi pokok : Al Ajurumiyah (matan, syarah), Fathul Qorib (matan, syarah), 2. Kolektif (bandongan) dengan materi kitab-kitab salaf diantaranya : Tafsir Al Jalain, Ihya’ Ulumuddin, Adabul  alim wal muta’alim, dll. 3. Komunal : Sima’atul Qur’an, Pengajian selapanan Kamis Kliwon. 4. Temporal : Pengajian kilatan bulan Rojab, Pengajian kilatan Romadlon,  Seminar, dll.
Disiplin dalam sholat berjama’ah akan tampak dipesantren satu ini, hal itu sesuai dengan pesan dari pengasuh Ponpes. Sirojuth Tholibin yaitu KH. A. Baidlowie Syamsuri Lc. H agar semua santri selalu melakukan  sholat dengan berjama’ah
Selain itu pondok pesantren Sirojuth Tholibin juga membekali santrinya sesuai tuntunan zaman dengan mengembangkan kegiatan ekstra semisal Jurnalistik (Buletin El Fath), Rebana dan Hadlroh, Tilawatil Qur’an , Kewirausahaan (koperasi Zaduna, Kantin Larisso), Bahtsul Masa’il (LBM), pertanian, dll.
Meskipun jauh dari perkotaan. Namun, bangunan yang disedikan untuk santri cukup nyaman, hal itu dapat terlihat dari segi bangunan yang ada. Hal itu, bertujuan agar para santri tetap betah berada di Pondok dan bisa konsentrasi penuh pada proses belajarnya.
Pondok pesantren yang mempunyai visi menyelenggarakan pendidikan dengan memadukan sistem salafi dan modern merunut “Al Muhafadzoh ‘alal qodimish sholih, wal akhdzu bil jadidil ashlah” ini, berharap akan tercetak kader yang berakhlaqul karimah dan berpengetahuan luas dengan membekali kader yang berakidah dan bersyari’at yang benar sesuai dengan pokok ajaran ahlus sunnah wal jama’ah an- nahdliyah.
Description: pesantren di grobogan Rating: 5 Reviewer: dhimas santoso ItemReviewed: pesantren di grobogan ItemReviewed: pesantren di grobogan Artikel terkait

0 komentar:

Poskan Komentar

Sering di baca